
MALANG – Lantai aula SMP Islam Al Azhar 56 Malang tampak penuh sesak oleh deretan murid berseragam putih yang duduk bersimpuh. Namun, suasana pagi itu jauh dari hiruk-pikuk biasanya. Ada keheningan yang khidmat, diselingi gema selawat yang sesekali menyeruak. Hari ini, kampus yang dikenal dengan jargon The SMART School ini tidak sedang belajar matematika atau sains, melainkan sedang menelusuri jejak perjalanan terjauh manusia: Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
Peringatan Isra’ Mi’raj tahun ini bukan sekadar seremoni kalender hijriah. Di balik tema besar “Once You Fix Your Prayer, You Will Fix Your Life,” tersimpan misi besar untuk menata kembali pondasi spiritual para murid di tengah gempuran dunia digital yang serba cepat.
Hadir sebagai narasumber utama, Ust. H. Sifa Al Huda, S.Ag., M.Pd., membuka tausiyahnya dengan sebuah analogi yang mengena di hati para remaja. Beliau menyebut shalat sebagai “kado langit.”
“Bayangkan kalian mendapatkan hadiah paling mewah dari sosok paling penting di dunia. Apakah kalian akan mencampakkannya? Tentu tidak,” ujar Ust. Sifa dengan nada yang tenang, namun berwibawa. Beliau memaparkan betapa istimewanya ibadah shalat karena perintahnya dijemput langsung oleh Rasulullah ke Sidratul Muntaha.
Pesan inti beliau sangat jelas: hidup yang berantakan seringkali berawal dari shalat yang diabaikan. “Once you fix your prayer, you will fix your life,” tegasnya. Kalimat ini seolah menjadi mantra yang meresap ke sanubari murid kelas 7 hingga 9, mengingatkan bahwa kunci sukses belajar dan ketenangan hati ada pada hamparan sajadah.
Usai siraman qalbu, suasana berubah menjadi dinamis namun tetap tertib. Ruang PSB disulap menjadi area kompetisi, yaitu lomba ketepatan bacaan dan gerakan shalat berjamaah.

Murid-murid dikelompokkan. Ada pemandangan menarik saat satu murid tampak sangat berhati-hati dalam posisi Ruku’ dan Sujud, memastikan punggung mereka lurus sempurna sesuai kaidah yang diajarkan. Sementara itu, di kelompok yang lain menunjukkan kekhusyukan yang lebih matang dengan bacaan yang tartil dan makhraj yang terjaga.
Para juri, yang terdiri dari guru-guru agama, menilai siapa yang paling menunjukkan Thuma’ninah (ketenangan). “Kami ingin mereka paham bahwa shalat itu bukan sekadar gerakan dan bacaan tanpa makna, tapi komunikasi ruhani,” ujar salah satu juri di sela-sela penilaian.
Menutup rangkaian hari yang penuh berkah, kegiatan berlanjut ke sesi Imla’. Jika sebelumnya mereka mengasah fisik dan suara melalui shalat, kini mereka mengasah ketelitian tangan dan ketajaman telinga melalui kaidah menulis Arab.

Suara gesekan pena di atas kertas memenuhi ruang kelas. Para murid menyimak dengan seksama setiap huruf yang didiktekan, memastikan setiap syakal dan titik diletakkan dengan benar. Belajar Imla’ bagi murid SMP Islam Al Azhar 56 adalah cara mereka mencintai Al-Qur’an melalui tulisan. Ini adalah bentuk literasi tingkat tinggi: mampu mendengar, memahami, dan memvisualisasikan kalam Allah dalam goresan tinta.
Saat matahari mulai condong ke barat di langit Malang, rangkaian acara pun berakhir. Namun, bagi para murid SMP Islam Al Azhar 56 Malang, ini adalah awal yang baru. Mereka tidak pulang hanya dengan membawa pengetahuan sejarah tentang perjalanan Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.
Mereka pulang dengan sebuah tekad baru yang tertulis di dalam hati: bahwa untuk memperbaiki masa depan di dunia, mereka harus terlebih dahulu memperbaiki “pertemuan” mereka dengan Sang Pencipta lima kali sehari. Karena di The SMART School, cerdas saja tidak cukup; cerdas yang sesungguhnya adalah ketika ilmu menuntun pemiliknya untuk bersujud lebih sempurna.
Penerimaan murid baru: https://smpia56.al-azhar.sch.id/brosur-pmb/
Kunjungi instagram sekolah kami: https://www.instagram.com/smpia56malang/
